Jual Polybag Murah: Isu Lingkungan Hidup dan Prospek Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

Kamis, 21 Juli 2016

Isu Lingkungan Hidup dan Prospek Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

Pemerintah Indonesia telah sering dikritik beberapa group pencinta lingkungan hidup karena begitu banyak berikan ruang untuk perkebunan kelapa sawit (memiliki resiko pada penggundulan rimba dan penghancuran tempat bakau) . Jadi, searah dengan semakin banyak perusahaan internasional yang mencari minyak sawit ramah lingkungan sama seperti kriteria Roundtable on Sustainable Palm Oil (di Malaysia) , perkebunan-perkebunan di Indonesia dan Pemerintah perlu tingkatkan kebijakan-kebijakan ramah lingkungan. Sebagian pemerintah negara-negara Barat telah buat beberapa ketetapan hukum yang lebih ketat mengenai sebagian product impor yang mempunyai kandungan minyak sawit, dan karena itu mendorong produksi minyak sawit yang ramah lingkungan.

Pada th. 2011, Indonesia medirikan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang memiliki maksud untuk tingkatkan daya saing global dari minyak sawit Indonesia dan mengaturnya dalam beberapa ketetapan ramah lingkungan yang lebih ketat. Semua produsen minyak sawit di Indonesia didorong untuk peroleh sertifikasi ISPO.

Moratorium Mengenai Konsesi Baru Hutan Perawan 
Pemerintah Indonesia ditandatangani moratorium berjangka waktu dua th. mengenai hutan primer yang mulai berlaku 20 Mei 2011 dan selesai waktu berlakunya pada Mei 2013. Setelah habis waktu berlakunya, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memperpanjang moratorium ke dua th. kemudian. Moratorium ini mengimplikasikan pemberhentian sebentar dari pemberian izin-izin baru untuk menggunakan ruangan rimba hujan tropis dan tempat bakau di Indonesia. Sebagai gantinya Indonesia terima paket 1 milyar dollar AS dari Norwegia. Pada beberapa kesempatan, media internasional melaporkan bila moratorium ini telah dilanggar oleh perusahaan-perusahaan Indonesia. Walau sekian, moratorium ini berhasil membatasi - untuk sebentar - ekspansi perkebunan-perkebunan sawit. Pihak-pihak yang skeptis pada moratorium itu perlihatkan bila terlebih dulu aplikasinya Pemerintah Indonesia telah berikan konsesi tanah seluas 9 juta hektar untuk tempat baru. Selain itu, perusahaan-perusahaan besar minyak sawit masih tetap memiliki tempat luas yang baru setengahnya ditanami, berarti terdapat beberapa ruang untuk ekspansi. Pada Mei 2015, Presiden Joko Widodo kembali memperpanjang moratorium ini untuk periode 2 th..

Prospek Industri Minyak Sawit di Indonesia
Saat Boom Komoditi 2000-an membawa lantaran untuk Indonesia karena berlimpahnya sumberdaya alam negara ini. Harga minyak sawit naik tajam setelah th. 2005 namun krisis global menyebabkan penurunan tajam harga CPO di th. 2008. Berjalan rebound yang kuat namun setelah th. 2011 harga CPO telah melemah, terutama karena hasrat dari RRT telah alami penurunan, sebentar rendahnya harga minyak mentah (sejak mulai pertengahan 2014) kurangi hasrat biofuel mempunyai bahan baku minyak sawit. Karena itu, prospek industri minyak sawit suram dalam periode saat pendek, terutama karena Indonesia masih tetap begitu bergantung pada CPO di banding sebagian product minyak sawit olahan.
Saat hasrat global kuat, usaha minyak sawit di Indonesia untungkan karena beberapa alasan itu :
• Margin laba yang besar, sebentar komoditi ini mudah di produksi
• Hasrat internasional yang besar dan senantiasa berkembang berbarengan kenaikan jumlah orang-orang global
• Biaya produksi minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia yakni yang paling murah didunia
• Tingkat produktivitas yang lebih tinggi di banding product minyak nabati
• Penggunaan biofuel diduga akan jadi tambah lewat cara utama, sebentar penggunaan besin diperkirakan akan menyusut

Sebagian permasalahan apa yang menghalangi pergantian industri minyak sawit dunia?
• Kesadaran untuk menjadi makin banyak kebijakan ramah lingkungan
• Konflik persoalan tanah dengan orang-orang lokal karena ketidakjelasan kepemilikan tanah
• Ketidakjelasan hukum dan perundang-undangan
• Biaya logistik yang tinggi karena kurangnya kualitas dan jumlah infrastruktur.
* Baca juga Mengenal Lebih Dekat Tentang Minyak Kelapa Sawit di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar