Pengaruh Kelembapan Udara Terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat diminati karena kandungan nutrisinya yang tinggi serta proses budidayanya yang relatif efisien.
Baca Juga:
- Polybag: Solusi Cerdas Bertanam di Lahan Terbatas
- Budidaya Kangkung: Solusi Cerdas Berkebun di Lahan Terbatas
- Panduan Praktis Budidaya Sawi Hijau: Dari Benih Hingga Panen
Namun, sebagai organisme heterotrof yang tidak memiliki lapisan kutikula pelindung, jamur tiram sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan mikro.
Di antara berbagai faktor lingkungan, kelembapan udara merupakan parameter paling kritis yang menentukan keberhasilan pembentukan tubuh buah (fruiting body) serta kualitas hasil panen secara keseluruhan.
Peranan Kelembapan pada Fase Pertumbuhan
Dalam siklus hidup jamur tiram, kelembapan udara memainkan peran yang berbeda pada setiap fase pertumbuhan. Pada fase inkubasi (pertumbuhan miselium), kelembapan relatif (Relative Humidity) yang dibutuhkan cenderung lebih rendah, yakni di kisaran 60% hingga 70%.
Akan tetapi, saat memasuki fase generatif atau pembentukan tubuh buah, kebutuhan akan kelembapan meningkat secara signifikan menjadi 80% hingga 90%.
Kelembapan yang tinggi pada fase ini berfungsi untuk memicu proses pinhead (pembentukan primordia). Tanpa kadar air di udara yang mencukupi, primordia jamur akan mengalami dehidrasi sebelum sempat berkembang menjadi tubuh buah yang sempurna.
Selain itu, kelembapan udara memastikan bahwa substrat di dalam media tanam (baglog) tidak menguap terlalu cepat, sehingga cadangan nutrisi dan air tetap tersedia bagi tanaman.
Dampak Ketidakseimbangan Kelembapan
Ketidakstabilan kelembapan udara di dalam rumah jamur (kumbung) dapat menimbulkan kerugian produksi yang substansial. Apabila kelembapan udara terlalu rendah (di bawah 70%), tubuh buah jamur akan cenderung mengering, pinggiran tudung pecah-pecah, dan tekstur menjadi keras.
Sebaliknya, kelembapan yang berlebihan (di atas 95%) secara terus-menerus juga bersifat kontraproduktif. Kondisi yang terlalu basah dapat memicu pembusukan pada pangkal batang jamur dan menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan patogen, seperti jamur kontaminan atau bakteri penyebab penyakit noda kuning.
Strategi Manajemen Kelembapan di Kumbung
Untuk menjaga konsistensi kelembapan udara, para pembudidaya perlu melakukan langkah-langkah teknis secara periodik. Metode yang paling umum digunakan adalah sistem pengabutan (misting). Frekuensi penyemprotan air harus disesuaikan dengan kondisi cuaca di luar ruangan; pada musim kemarau, pengabutan dilakukan lebih sering untuk mengompensasi laju evaporasi yang tinggi.
Selain itu, desain bangunan kumbung juga sangat menentukan. Penggunaan bahan atap yang tidak menyerap panas, seperti rumbia atau bambu, serta pengaturan ventilasi udara yang tepat dapat membantu mempertahankan uap air di dalam ruangan.
Sirkulasi udara harus tetap ada namun tidak boleh terlalu kencang, karena aliran angin yang kuat dapat menurunkan kelembapan secara drastis dalam waktu singkat.
Dapat disimpulkan bahwa kelembapan udara adalah faktor pembatas utama dalam budidaya jamur tiram. Pengelolaan kelembapan yang presisi antara 80–90% pada fase produksi akan menjamin tubuh buah tumbuh dengan optimal, memiliki tekstur yang kenyal, serta bobot yang ideal.
Pemahaman mendalam mengenai dinamika kelembapan udara tidak hanya meningkatkan kuantitas panen, tetapi juga menjaga kualitas mutu produk agar memenuhi standar pasar.

.png)
0 Response to "Pengaruh Kelembapan Udara Terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram"
Posting Komentar